Now i wanna tell you the answered from the question in up.
Yap, a woman who changed my lifestyle and the way I talk.
From sundaness to jawaness!
In fact, im sundaness and her is jawaness.
She is BERBY DJABANGOEN HARAHAP!
Aha.. dilihat dari namanya saja sudah terlihat, dia bukan bagian dari negara kita PARIS VAN JAVA, tentu saja dia itu merupakan keturunan batak dan surabaya yang mencari kitab suci di bandung ini.
When i know her? why I could recognize her? And
Yah tentu saja dikampus UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA* waktu itu kita sedang menjalani MOKA [Masa Orientasi KAmpus]. Dan agaknya dari pertemuan kita itu menunjukan bahwa kita mempunyai talenta dan bakat yang sama yaitu TELAT . prok prok prok berasaa happy bgt gue punya bakat itu! Nah dari situ kita mulai kenalan-deket-minta no handphone-pdkt-pacaran. [Tolong kalimat tadi anda hapuskan dipiran anda] yah pas udah kenalan ternyata gue gak merespon dia baik, awalnya gue malah sangat sebal melihat tingkah dia yang sok akrab, sok kenal, sok baik, sok gaul, sok cewe, sok manusia ~yaiyalah dia kan emang manusia, dan nyatanya bukan gue doang yang sebel sama dia banyak dari wanita wanita dari jurusan gue jg gak suka sama dia hahahahahahah *sorry bel.
Tapi lama kelamaan gue malah jadi semakin akrab sama dia, dengan latar belakang yg berbeda, basic bakat yg sama, dan kegilaan yang sama. Oke sesuai dengan judul kita tadi, ternyata kita bener-bener punya budaya yang sangat berbeda. Gue faseh dalam bahasa sunda sedangkan dia ngerti aja gak, dan dia amat sangat baik atau bisa dibilang expert dalam bahasa jawanya [surabaya] sedangkan gue hanya ngerti ora opo opo, mboten, dan ono opo?. Tapi kita anggap semua itu merupakan bahan tertawaan dan kebahagiaan kita jadi kita gak ngerasa beban tuh walaupun gak mengeti bahasa masing-masing, kita tetap berjalan seirama. Ting ting*
Hingga pada suatu hari..
Teman-temannya dia dari surabaya dateng ke bandung untuk berlibur. Yah sambil ingin bersilahturahmi dengan anak-anak surabaya gue mengIYAkan ajakan berbi untuk nemenin dia ketemu temen-temennya itu. Dan tenyata gue salah besar memilih jalan ini, sambil bersujud kaGusti Allah biar hal ini takkan terulang lagi [read:lebai]. Kalian tau tidak, waktu pertama kali gue ketemu mereka pulangnya gue seakan langsung ingin bergegas pergi ke gramed* [toko buku yg harganya lbh mahal dr toko2 pinggir jalan] beli kamus bahasa sunda-bahasa jawa. Of course, gue terbujur kaku waktu mendengarkan mereka berbicara, kayak dengerin sekelompok abang tukang bakso tegal yang lagi demo ke gedung MPR karena tidak boleh beroprasi disiang bolong pd bulan puasa. OHMYDOG! Gue harus beli tivi bilingual biar bisa ngerti apa yang mereka perbincangkan dan mereka tertawakan. Rasanya gue pengen segera pamit pulang karna ada PR yg harus gue kerjakan di rumah dan say goodbye “mungkin ini untuk terakhir kalinya kita bertemu, senang bisa berkenalan dg kalian.trims.”. tapi nyatanya Tuhan gak mengijinkan gue untuk melakukan hal tersebut karna nyatanya gue tengah berada di tempat yg tidak gue ketahui sm sekali jalan pulangnya ke tempat yg lebih aman *kostan gue, and im stuck.
Tapi akhirnya mereka menyadari atas keberadaan gue yang sm sekali tidak merespon apa yang mereka bicarakan, sampe ada yg nanya sm gue [gue terjemahkan dlm b.indonesia] “eh kamu kenapa dari tadi diem aja?”. Sebelum gue menjawab [memang karna gue gak ngerti apa yg dia tanyakan], berbi sudah menjawab duluan pertanyaan tsb, “oh ya dia kan org sunda asli jd gak ngerti jawa”. Sedetik berlangsung semua hening*. Dan semua serempak “oooh pantes” dan mereka pun tertawa, gue pun ikut tertawa karna gue gak tau apalagi yg harus gue lakukan. Finally gue sedikit2 diajarin b.jawa yg standart, dan mudah dipahami oleh gue, dan juga logat-logat yg sangat kental. Jadilah sekarang gue ririn si sundaness berubah jadi ririn si jawaness karena terbiasa keikutan pake b.jawa. sampai sampai gue pulang ke bogor juga, keluarga dan teman-teman gue kaget kenapa bahasa gue berubah jadi kayak gitu? Apa selama ini gue bukan tinggal di bdg melainkan nyasar di surabaya? Atau gue bergaul dengan tukang2 bakso yg ikut demo tadi? Setelah gue jelaskan akhirnya mereka mengerti dan tertawa tersedu sedu. Hahahahahahah..
Jadi itulah awal mulanya kenapa orang-orang bertanya “lo teh hidup di jawa atau sunda sih? Omongan lu kaya gt!” . yah dengan santai gue pun menjawab, disini tuh kita hidup dengan berbagai budaya, walaupun dalam suatu wilayah tertentu yg dominan orang asli wilayah tersebut bukan berarti orang dari luar wilayah tersebut tidak bisa beradaptasi dengan baik, justru disinilah kita menemukan beraneka ragam bahasa yg seharusnya dapat kita pelajari sebagai bangsa indonesia yg mempunyai keaneka ragaman budaya yg kental di setiap daerahnya. Jadi jangan pertanyakan gue lagi yah atas keganjalan dari diri gue. Heheheh. Tapi tetap SUNDANESS IS MY CULTURE and SUNDANESS IS MY LANGUAGE. =)
Oke ini adalah galeri gue dengan orang surabaya tsb :
pertama kalinya melakukan hal gila, its motong rambut skinhead

first time, kita karaokean bareng
(@NAV – DAPLA)
(@ kostan ti belbi)

first time kita nonton acara brg
(@kickfest’09 – SABUGA)
